Posted by: antozz on: November 13, 2008
Pagi ini benar-benar kecele setelah tiga hari nggak ngantor karena sibuk di RSCM untuk cek sana dan sini. Kecele karena ketinggalan berita ternyata sudah tiga hari ini nggak ada OB (Office Boy) di kantor. Usut punya usut ternyata memang keberadaan OB sudah dihilangkan dan yang membuatku sedikit heran alasan kenapa keberadaan OB ditiadakan adalah efisensi. Efisiensi? Sampai segitunya? Entah ini bisa disebut langkah maju atau mundur? Yang pasti aku merasakan kehilangan.
Semenjak masuk ruangan kantor hingga sekitar jam 10an aku masih belum menyadarinya dan seperti biasanya kepalaku mulai terasa sakit, lihat kiri kanan meja nggak ada teh (biasanya teh menjadi obat yang manjur), pikirku wajar nggak disiapkan oleh OB karena memang kemarin aku nggak masuk. Mau minum air putih dan cari gelas di meja kok nggak ada juga, lalu aku telpon ke ruangan OB sampai 3 kali nggak ada yang angkat. Wah.. makin menjadi sakit kepalaku, aku rebahkan kepala di meja sambil menahan sakit hingga sakitnya agak berkurang. Tanpa nanya teman sebelah meja, aku berjalan ke raung pantry, ternyata kosong.. “Pasti lagi pada keluar”, batinku. Begitu kembali ke meja, kok ada yang janggal, di meja rekanku yang lainnya juga nggak ada gelas juga. Dan aku perhatikan beberapa rekan memakai gelas plastik. Baru sadar setelah temanku menjelaskannya.
Wah..belum sempat Say Good Bye ke Mas Udin, Lili dan rekan-rekan lainnya, pastinya aku akan merindukan kalian. Sebenarnya aku paling jarang meminta tolong ke OB untuk beberapa keperluan baik urusan kantor maupun pribadi. Hanya teman-teman yang sering menyuruh mereka dan kadang aku perhatikan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan sendiri tentunya tidak menyita waktu kerja kita. Kalau berbicara waktu kerja, sepertinya ketidak adaan OB bisa jadi akan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Terutama hal-hal yang memerlukan waktu lumayan lama, seperti urusan fotocopy dokumen di mana di kantorku ada di Basement 2, delivery surat ke unit kerja lain. Belum lagi untuk urusan perut
, bagi yang nggak sempat sarapan pagi atau tidak bisa turun ke kantoin saat makan siang bisa menjadi masalah besar dan akan menyita waktu kerja mereka.
Alasan efisiensi rasanya kurang tepat, karena masih banyak kebijakan lain yang bisa dilakukan oleh pihak manajemen. Contohnya penggunaan telpon PABX diganti dengan VOIP, meningkatkan paperless dan penghematan pengeluaran biaya yang tidak berhubungan langsung dengan pendapatan. Kenapa lantas OB yang ditiadakandan menurut saya merupakan langkah mundur dari perusahaan ini, semestinya cukup dikurangi saja, apalagi tenaga OB pada perusahaan ini merupakan outsource dari koperasi perusahaan sehingga bisa dikatakan telah menghemat biaya SDM.
Memang baru beberapa hari yang mungkin belum akan terasa bagi produktivitas teman-teman. Bagaimana bila ada tamu dan ada beberapa kegiatan acara yang hampir bersamaan, apa sanggup meminta bantuan room services (pengganti office boy yang dikempulkan di satu tempat). Bahkan lucunya untuk urusan pergantian isi galon dispenser, akhirnya mengandalkan rekan kantor yang masih yunior. Untungnya masih ada yang mau
, tapi apa seperti ini akan bisa terus menerus. Sekali lagi ini kebijakan perusahaan yang tidak tepat setelah dahulu pernah terjadi kebijakan tranformasi yang gagal dan berubahnya struktur organisasi yang gagal pula, akhirnya kembali ke seperti dulu lagi. Saya yakin lambat laun akan sadar betapa ’strategis’nya peranan OB di perusahaan dan akhirnya akan kembali lagi seperti dulu. “OB… I miss you……..”(/hmt)
yaahh, perusahannya kok malah makin pelit sekarang ya mas??
kena krisisnya sampe segitu2?? aku malah cuma mikir kasian banged para OB yang lom tentu lgs dapet kerja di tempat lain. sedang jujur aja gaji OB juga bukanlah secara nyata bisa dikatakan berkecukupan untuk hidup tiap bulan. tapi gimanapun mereka juga butuh penghasilan…
/hmt : iya..kasihan mereka, tapi aku belum dengar apa sebagian dari mereka diberhentikan, semoga saja tidak
![]()
Bener yang di katakan mbak maureen sekarang banyak perusahaan yang pelit alasanya karena krisis tapi memang bener yang di maksud dengan krisis adalah bukan krisis ekonomi tetapi krisis prikemanusiaan.
/hmt : krisis kemanusiaan mungkin lebih bahaya dari krisis ekonomi.. yang pastinya OB tersebut di outsource dari koperasi perusahaan
Salam kenal mas,
Memang kadang penting juga sih OB. Kalo udah gini baru kerasa beratnya
/hmt : benar..baru terasa beratnya apalagi saat beban kerjaan meningkat
![]()
menurut aku gak bener tuh begitu , OB adalah bagian dari asset perusahaan. Mereka banyak membantu loh …
Kasian kan yg junior d suruh angkat galon, karena dia junior kan…
padahal siapapun bisa isi air galan. Aku dirumah jg angkat sendiri ….
Mudah2an hanya sementara ya mas, efisiensi bisa dilakukan di sektor lain.
/hmt : iya..OB bisa dikatakan asset perusahaan. O..iya Yunior di sini sendiri yang penuh kesadaran mau mengangkatnya dan sebnarnya bisa siap saja , termasuk aku
![]()
OB itu bagian penting dari perusahaan. Terkadang banyak yang menganggap OB itu pekerjaan sepele, padahal karena ada mereka justru waktu kerja jadi lebih efisien.
btw, aku jadi kasian sama yunior kantor yang musti ganti galon ke dispenser
/hmt : bener.. bisa jadi efisien… kasihan juga yuniorku yach..tapi ganti-gantian kok siapa sempat dan ada saat habis
![]()
malah inget OB RCTI…. dulu ada episode yang menceritakan tentang liburnya para OB, dan sebagian besar staff kantor merasa kehilangan karena menyadari betapa keberadaan mereka sangat membantu tugas dan kelancaran kerja. Sayuti.. Odah.. Mail… i miss u so much
/hmt : iya.. sayang nggak diterusin, mungkin rating sinetron OB turun![]()
idem dgn maureen nih.. ![]()
Betul, keberadaan OB sangat diperlukan. Kalau tidak ada para OB, kerepotan pastinya karyawan/pegawai kantor. Seperti yg mas Harmanto alami sekarang.. Namun jauh daripada itu, nasib para OB sekarang.?! Jujur, gak mudah cari kerja bagi mereka dlm kondisi kayak sekarang…
Nice posting ![]()
/hmt : Bener Mas..kasihan mereka, saya harap mereka nggak dipecat![]()
Setiap orang punya peran masing masing dalam kehidupan. Salam kenal mas
/hmt : Salam Kenal juga. Thanks sudah mampir![]()
OB tuh banyak jasanya …
waaah, klo ga ada temen2 OB, harus bersihin ruangan sendiri, moto copi sendiri… hmmm… agak merepotkan, mg2 kebijakannya segera di tinjau ulang
Keberadaan OB sangat berperan penting di kantor, tanpa OB kita kewalahan untuk ngerjain operasional kantor yang tidak mungkin bisa kita kerjakan
Mungkinkah ini efek dari Krisis GLobal ?
OB = Dept – Dept lain juga kok mas
mereka punya tanggung jawab satu sama lain
kita saling sama2 membutuhkan
jadi engak bisa di kesampingkan gitu
yah liat aja.. lama2 kantor pasti akan menurun produktifitasnya.. sebenernya makin kebawah kesbuah jabatan justru makin vital.. karena orang2 yang di jabatan bawah berguna sebagai team support…
klo support teamnya ilang yah core teamnya lama kelamaan berantakan karena ga ada support..
sebuah kebijakan efisiensi yang salah justru akan menghasilakan inefektifitas kinerja,, gitu sih klo dilihat dari sisi SDM..
untuk menjadi efektif harus memerlukan team yang tangguh dari semua lini tingkatan, bukan hanya orang penting tetapi OB juga punya peranan untuk mencapai efektifitas itu……..sebuah perusahaan 1001 macam mencari2 dengan berkedok efesiensi lah etc… ha..ha..
OB emang terkadang kurang diperhatikan, tetapi kalau tidak ada mereka…… wah kantor ini jadi berantakan
Hahahaaaaa…. ada yg nyamai.
Diktr ku juga lagi gak pake OB, tapi bkn utk effisiensi. Kata BOSS biar KOMPAK dan senasib spenanggungan. GAJI ob-nya dibagi rata utk smua karyawan (lumayan wat tambahan ongkos).
Jd pagi hrs bersih2 sendiri, nyiapin teh & kopi sendiri, nyuci gelas & piring sendiri.
Bagi2 tugas lah….
Itung2 biar merasakan jadi OB itu seperti apa.
Sebagai pengalaman juga, sapa tau ntar :
- buka jasa catering (dah ngerti nyuci piring)
- buka jasa OB (dah ngerti ngepel & nyapu yg baek & benar)
- buka warung makan (dah ngerti bikin kopi & teh)
Mungkin bukan efisiensi kerja..
Tapi efisiensi duit..
Yang dibayarkan perusahaan..
Untuk menggaji OB..
..
Dampak nya blm kerasa bwt perusahaan, tunggu aj bentar lg..
Bayangkan aja misal dikantor atau Instansi OB g tersedia? mereka mogok satu ahri aja, Baru Nyadar pasti kalau OB itu tetep PENTING dan Berjasa banyak ,,hihi ,,,
saL4M ..
Klu di kantor saya, antara OB dan CS tidak berbeda fungsinya, mereka melakukan kedua fungsi/kerja tsb. Nah, yang kebayang di benak saya –di kantor mas Harmanto– trus masak karyawan mesti berbenah dan bersih2 kantor juga?? piye mas?
banyak ob ngeluh kebanyakan potongan
seharusnya dibayarnya 1.000.000 sampai ke tangan ob cuman setengahnya
setengahnya masuk ke jasa penyedia OB
Terimakasih sebelumnya,
Saya seorang OB di salah satu bank yang katanya “Terbesar” di negeri ini. Memang sangat ironi, saya sangat merasakan itu. Keberadaan kami ” Antara Ada dan Tiada”. Jika sedang dibutuhkan mereka mengemis minta “tolong………….”, tapi setelah itu jangankan “Terimakasih” melihat muka kamipun terasa berat buat mereka. Disaat banyak pekerjaan yang menumpuk, mereka teriak; ” Mana OB ya……………..” tapi manakala ada suatu acara yang sifatnya menghibur (gathering,pesta tahun baru,dll) jangankan disuruh “ngikut”, diundang pun tidak. Alasannya beragam, karena nggak punya NIP-lah, Cuma Pegawai Tetap-lah,dll. Ya, itulah Kami, Tapi prinsip yang Kami pegang sampai hari ini adalah ” Bekerjalah dengan Jujur, Karena kejujuran Tak Ternilai Harganya”.
Sekali lagi Terimakasih atas Simpati dan Empati-nya.
November 13, 2008 pada 2:16 pm
memang keberadaan OB dianggap sepele bagi sebagian orang, padahal peran mereka vital juga untuk bidang pelayanan kantor yang kadang kala tidak dirasa dimasa mereka ada. saya sependapat dengan mas, hal ini baru terasa nanti sewaktu intensitas pekerjaan lagi tinggi-tingginya sementara diwaktu yg bersamaan kita juga harus mengerjakan kerjaan yg biasa dilakukan OB, apalagi sesama teman kantor pada males semua repot dech…